Tidak menyangka dan tak terpikirkan
sebelumnya akan memiliki sebuah Paspor. Pengalaman Pertama Membuat Paspor
ini saya lalui dengan penuh kekakuan dan kecemasan, maklumlah… ini kali pertama
saya membuatnya.
Berawal dari menerima undangan dari
SMP Muhammadiyah 1 Surabaya bahwa anak saya rafasyah febrian adzani terpilih
untuk mengikuti program student exchange ke sekolah Malaysia dan Singapura
serta Batam Indonesia akan
diselenggarakan pada 13-16 Mei 2013 . Saya pun mulai kasak-kusuk mencari
informasi tentang cara pembuatan paspor, termasuk mencarinya di Google.
Cuplikan Pengalaman Pertama Membuat
Paspor
Berdasarkan informasi yang didapat,
saya mengira semua di tangani pihak sekolah karena saya sudah membuatkan surat
kuasa kepada pihak sekolah dengan bermaterai,namun ternyata peraturannya
berubah tidak seperti tahun lalu ,saat ini anak yang masih dibawah umur harus
didampingi orangtuanya ,awalnya pihak sekolah mulai mengajukan Permohonan
Pembuatan Paspor secara online terlebih dahulu di website resmi Ditjen
Imigrasi. Setelah dengan diantar mobil pribadi bapak kepala sekolah
Drs.
H. SUPRIJANTO akhirnya kami 6 orangtua siswa diantar ke ditjen imigragi ,karena
kita berangkatnya kesiangan akhirnya kita harus rela ngantri hingga siang hari
dengan membawa beberapa dokumen
persyaratan yaitu;
1. Kartu Tanda Penduduk (KTP)
2. Kartu Keluarga (KK)
3. Akta Kelahiran
4. Buku Nikah
Setibanya di Kantor Imigrasi, dengan
kaku saya mendatangi meja petugas imigrasi dan menyatakan akan membuat Paspor Baru. Petugas tersebut pun
langsung memberi dan menyuruh saya untuk mengumpulkan dokumen yang sudah
disiapkan termasuk Formulir Permohonan Paspor, Surat Pernyataan dan membuat
foto copy dokumen persyaratan yang dibawa tadi.
Perlu diingat, dalam pengisian
formulir dan pernyataan harus teliti, jelas dan benar. Juga data yang ada di
dokumen persyaratan yang kita bawa, terutama nama dan tempat tanggal lahir
semuanya harus sama. Karena jika ada penulisannya yang tidak sama, maka kita
akan disuruh untuk membetulkannya terlebih dahulu pada instansi terkait. Dan
dalam pengisian formulir, kita harus menuliskan nama serta tempat tanggal lahir
orang tua (ibu dan bapak).
Setelah selesai diisi, Formulir
Permohonan Paspor, Surat Pernyataan dan dokumen persyaratan asli beserta foto
copy nya semua dimasukkan ke dalam map warna kuning (yang telah dibeli
sebelumnya di koperasi imigrasi). Lalu diserahkan kepada petugas, selanjutnya
saya diberi secarik Surat Tanda Terima Permohonan dan disuruh menunggu
panggilan untuk melakukan pembayaran, foto dan wawancara.Meski agak lama
menunggu, akhirnya sesi pembayaran, foto dan wawancara saya lalui dengan
lancar. Selesai itu, lagi-lagi saya diberi secarik kertas berupa Surat Pengambilan
Paspor bertulis tanggal pengambilan paspor
Hari Jum.ah saya mencoba menghubungi
Kantor Imigrasi via handphone untuk sekedar menanyakan apakah paspor masih bisa
diambil hari itu meskipun saya datang terlambat dari jadwal yang telah
ditentukan dalam Surat Pengambilan Paspor.
Disaat menanyakan hal tersebut,
jawaban yang diterima pun sungguh menggembirakan “paspor atas nama Raffasyah
Febrian Adzani bisa diambil hari ini.”
Alhasil, hari itu Paspor Warna
Hijau 48H dan tiket pesawat sudah ada ditangan. Semoga keberangkatan saya ke
Kuala Lumpur, Malaysia pada 13-16 Mei 2013 mendatang diberi kelancaran dan
kemudahan. Aamiin.
Demikian Pengalaman Pertama
Membuat Paspor saya yang penuh dengan luka-liku, tentunya tak akan
saya lupakan dan akan dijadikan pelajaran serta rujukan bilamana mengurus
pembuatan paspor dikemudian hari baik untuk sendiri, anggota keluarga atau
orang lain.