NOBAR ASSALAMUALAIKUM BEIJING

Kali ini aku menghabiskan week end bersama adikku sejak dia menikah hingga punya anak ,fafa yang berusia 9 bulan , kami tidak pernah jalan bareng ,dikarenakan kesibukan kami masing - masing,
syukur alhamdulillah.....
hari ini ,sabtu ,3 januari 2015 Allah memberikan kami waktu bersama,maka waktu itu kami gunakan untuk nonton bareng kebetulan saat ini filmnya berjudul asslamualaikum beijing , film yang menceritakan tentang
 kisah nyata, kisah cinta nyata antara seorang penyandang APS yang melalui semua tindakan medis seperti di filmnya, sempat kena serangan jantung, stroke beberapa kali bahkan lupa keluarga, buta, sampai lumpuh, dan seterusnya. Mendengar kisahnya dan tahu bahwa kondisi seperti itu ada seorang lelaki yang ingin menikahinya buat saya subhanallah. Apalagi si lelaki Chinese, non Muslim, dan sampai diusir keluarga ketika dia masuk Islam.

 
puas dengan film yang kami tonton ,kami bermain sebentar di Time zone lalu ,makan di restoran surabaya mall
ternyata memang benar : kesan mendalam bukan karena lamanya kita berjumpa akan tetapi kualitas pertemuan itulah yang bisa membuat kita berkesan
Read More

LIBURAN TAHUN BARU 2014 DI UBALAN PACET MOJOKERTO



Tepat di hari ke 3 di tahun yang baru yaitu hari sabtu tanggal 3 Januari 2014 jam 6 pagi, hari yang masih segar yang lumayan dingin dari sisa-sisa tangisan dewa dimalam sebelumnya masih terasa. Kami bertiga meluncur menuju kota mojokerto, tepatnya di wisata Ubalan Pacet, dengan mengendarai si vario yang sempat ngos-ngosan di ajak mendaki gunung melewati lembah, sungai mengalir kesamudra, bersama teman berpetualang (ninja hattori mode:on) he..he..he...maklum si RIO ini gak pernah sama sekali di ajak naik kegunung.
Setelah perjalanan kurang lebih satu jam kami sampai di tempat wisata yang berhawa sejuk ini, pertama datang kami disambut oleh petugas retrebusi dan di haruskan membayar Rp.1.500,- kami kira ini biaya parkirnya, ternyata kami salah, di dalam lagi ternyata kami harus membayar biaya parkir sebesar Rp.5.000,-. Dilihat dari kartu parkir (bukan kertas parkir) sepertinya perparkiran di lokasi wisata ubalan ini dikelola oleh sekelompok pemuda setempat.
Di hari yang masih pagi itu ternyata udah lumayan banyak pengunjung di tempat ini, untuk masuk ke lokasi wisata ini dikenain tiket masuk sebesar Rp.7.000,- per orang. Harga ini belum termasuk untuk masuk ke kolam renang yang tiket masuknya Rp.5.000,-  main sepeda air yang tiketnya Rp.7.000,-, dan untuk anak 3 tahun ke atas di kenain tiket penuh, ini tidak seperti peraturan di BNS atau Jatim Park atau di tempat lainnya yang menerapkan sistem free untuk anak dengan tinggi maksimal 80 cm. Kebetulan nada sudah berumur 6 Tahun 10 Bulan,  Jadinya kami hanya membeli tiket masuk 3.
Di dalam wisata ubalan ini banyak berdiri patung-patung. Ada Sinter Klas (Santa Claus he..he..he..), Petruk dan kawan-kawannya (gak tahu namanya, soalnya gak tahu dunia pewayangan), Snoopy, Kurcaci, Putri Salju, Donald dll.....

Read More

LIBURAN DI TAMAN ANGSA ITS SURABAYA


Liburan meriah dan menyenangkan ternyata tidak harus mahal. cukup dengan uang Rp 10.000 kita bisa berlibur , kebetulan jarak rumah kami tidak terlalu jauh dari taman angsa ,sesudah makan pagi kami berangkat menuju pom bensin seliter Rp 8.500 dengan berbekal uang Rp 1.500 kami menuju ke taman angsa .
subhanallah.....
sungguh suatu hal yang tidak bisa saya gambarkan bagaimana senangnya anak bungsuku.nada dia melompat, berlari, teriak kegirangan melihat angsa berbaris rapi di kolam begitu pula dengan ikan yang berwarna - warni ,banyak dan ada yang besar seakan bergembira kami kunjungi,..
setelah puas bermain kami beranjak pulang ,sisa uangnya kita berikan ma tukang parkir...
alhamdulillah...

Read More

GUNUNG GEGER MADURA





Bukit Geger berada kurang lebih 30 Km arah tenggara Kota Bangkalan, tepatnya di desa Geger, Kecamatan Geger. Dari Kota Bangkalan lurus terus ke arah utara yaitu ke arah kecamatan Arosbaya, lalu ke timur kearah kecamatan geger. Disitulah bukit itu berada. Bukit tersebut mudah dijangkau karena letaknya tepat dipinggir jalan raya.
Bukit ini berada di ketinggian sekitar 150-200 meter diatas permukaan laut. Obyek wisata ini bagus untuk wisata alam/ wisata hutan, dan biasanya dibuat sebagai lahan bumi perkemahan dan sebagai tempat olahraga pendakian.
Selain Keindahan Wisata Alam/ hutan, Objek wisata bukit geger juga memiliki PAtung Kuno yang dikeramatkan, ada juga Hutan Akasia, Hutan Mahogany, dan hutan Jati seluas 42 hektar lebih, Lembah Palenggiyan dengan keindahan Danau dan Jejeran Sawah yang rapi dan luas, tempat peristirahatan di puncak bukit yaitu Situs Pelanggiran.
Bukit ini juga memiliki 5 (lima) goa legendaris dan amat bersejarah, nama-namanya dalam bahasa madura kurang lebih jika di Indonesiakan seperti dalam kurung yaitu: Goa Petapan (gua tempat semedi), Goa Potre (gua putri), Goa Planangan (gua laki-laki), Goa Pancong Pote (gua pancung putih), dan Goa Olar (gua Ular).
Konon, Bukit Geger menjadi tempat manusia pertama yang menginjakkan kaki di bumi Madura. Ceritanya, pada abad ke 7-8 Masehi, Patih Pranggulan dari Kerajaan Medang di Kaki Gunung Semeru disebut-sebut sebagai orang pertama yang mendarat di Planggirân (tumpukan batu karang) di bukit Geger. Saat itu dia membawa Dewi Ratna Rorogung, anak Raja Medang yang sedang hamil.
Keduanya terdampar di Planggiran setelah mengarungi lautan dengan rakit. Di bukit Geger itu, Dewi Ratna Rorogung mendapat julukan Potre Koneng. Putri yang satu ini punya kebiasaan bersemedi di tepi tebing. Rutinitas itu dilakukan setiap hari menjelang matahari terbenam. Kini, batu mirip kursi itu disebut Palènggiyân (Madura, Red). Hingga akhirnya lahirlah Raden Segoro dari rahim Dewi Ratna Rorogung.
Tak hanya batu Palènggiyân, di Bukit Geger terdapat banyak situs bersejarah. Diantaranya Goa Petapan, Goa Potre, Goa Planangan, Goa Pancong Pote, dan Goa Olar. Hingga kini di lokasi tersebut banyak dijadikan tempat tirakat oleh masyarakat. Baik masyarakat yang berasal dari Madura maupun dari luar.
Untuk masyarakat luar Jatim, kebanyakan berasal dari Cirebon, Banten, dan Tasikmalaya. Bahkan ada yang datang dari Malaysia dan Brunei. Kebanyakan, masyarakat memilih Goa Petapan dan Goa Potre untuk tempat tirakat.
Menurut kisahnya, Goa Petapan menjadi tempat bertapa Adipodai dan Goa Potre tempat bertapa Potre Koneng. Pada Abad 13, Aryo Kuda Panoleh (Jokotole) yang bergelar Seco Diningrat III hendak berperang dengan Sampotoalang -Dampo Awang (Laksamana dari Cina). Sebelum bertempur, Jokotole menghadap Adipodai di Geger. Sampai akhirnya dia mendapat senjata pamungkas berupa pecut.
Saat bertempur, Jokotole menunggangi kuda terbang. Sedangkan Dampoawang naik perahu terbang. Dalam perang tanding satu lawan satu, Dampoawang beserta perahunya berhasil dihancurkan tepat di atas Bancaran (artinya, bâncarlaan), Bangkalan. Piring Dampoawang jatuh di Ujung Piring-sekarang nama desa di Kecamatan Kota Bangkalan. Sedangkan jangkarnya jatuh di Desa/Kecamatan Socah.
Nah, berawal dari cerita itu saat ini Goa Petapan dan Goa Potre dijadikan tempat tirakat oleh masyarakat. Di dua tempat yang dianggap keramat tersebut banyak yang mendapatkan benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan mistik.
Banyak orang yang tirakat di lokasi tersebut mengaku mendapat benda gaib. Seperti kisah Sukri, warga asal Kamal, yang mengaku mendapat besi kuning dan keris penangkal hujan saat bertirakat.
Selain itu, goa lain di Bukit Geger juga memiliki keunikan. Seperti Goa Pancong Pote. Goa yang berada di bibir tebing ini di saat hujan ada air yang mengalir di lantai goa yang sangat bening. Malah warnanya seperti pelangi. “Masyarakat biasa menyebutnya air tujuh warna,” ujar Sekretaris Klub Pecinta Alam Kipoleng, Drs Mas Imam Lutfi.
Sedangkan di Goa Planangan, jelas Imam, terdapat stalaktit yang menjuntai ke bawah (maaf) mirip kemaluan pria. Uniknya, air yang menetes dari stalaktit diyakini bisa menambah keperkasaan pria. Sedangkan Goa Olar disebut begitu karena di depan mulut goa ada sebongkah batu yang mirip kepala ular. Goa tersebut berada di puncak bukit.Konon, Bukit Geger menjadi tempat manusia pertama yang menginjakkan kaki di bumi Madura. Ceritanya, pada abad ke 7-8 Masehi, Patih Pranggulan dari Kerajaan Medang di Kaki Gunung Semeru disebut-sebut sebagai orang pertama yang mendarat di Planggirân (tumpukan batu karang) di bukit Geger. Saat itu dia membawa Dewi Ratna Rorogung, anak Raja Medang yang sedang hamil.
Keduanya terdampar di Planggiran setelah mengarungi lautan dengan rakit. Di bukit Geger itu, Dewi Ratna Rorogung mendapat julukan Potre Koneng. Putri yang satu ini punya kebiasaan bersemedi di tepi tebing. Rutinitas itu dilakukan setiap hari menjelang matahari terbenam. Kini, batu mirip kursi itu disebut Palènggiyân (Madura, Red). Hingga akhirnya lahirlah Raden Segoro dari rahim Dewi Ratna Rorogung.
Tak hanya batu Palènggiyân, di Bukit Geger terdapat banyak situs bersejarah. Diantaranya Goa Petapan, Goa Potre, Goa Planangan, Goa Pancong Pote, dan Goa Olar. Hingga kini di lokasi tersebut banyak dijadikan tempat tirakat oleh masyarakat. Baik masyarakat yang berasal dari Madura maupun dari luar.
Untuk masyarakat luar Jatim, kebanyakan berasal dari Cirebon, Banten, dan Tasikmalaya. Bahkan ada yang datang dari Malaysia dan Brunei. Kebanyakan, masyarakat memilih Goa Petapan dan Goa Potre untuk tempat tirakat.
Menurut kisahnya, Goa Petapan menjadi tempat bertapa Adipodai dan Goa Potre tempat bertapa Potre Koneng. Pada Abad 13, Aryo Kuda Panoleh (Jokotole) yang bergelar Seco Diningrat III hendak berperang dengan Sampotoalang -Dampo Awang (Laksamana dari Cina). Sebelum bertempur, Jokotole menghadap Adipodai di Geger. Sampai akhirnya dia mendapat senjata pamungkas berupa pecut.
Saat bertempur, Jokotole menunggangi kuda terbang. Sedangkan Dampoawang naik perahu terbang. Dalam perang tanding satu lawan satu, Dampoawang beserta perahunya berhasil dihancurkan tepat di atas Bancaran (artinya, bâncarlaan), Bangkalan. Piring Dampoawang jatuh di Ujung Piring-sekarang nama desa di Kecamatan Kota Bangkalan. Sedangkan jangkarnya jatuh di Desa/Kecamatan Socah.
Nah, berawal dari cerita itu saat ini Goa Petapan dan Goa Potre dijadikan tempat tirakat oleh masyarakat. Di dua tempat yang dianggap keramat tersebut banyak yang mendapatkan benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan mistik.
Banyak orang yang tirakat di lokasi tersebut mengaku mendapat benda gaib. Seperti kisah Sukri, warga asal Kamal, yang mengaku mendapat besi kuning dan keris penangkal hujan saat bertirakat.
Selain itu, goa lain di Bukit Geger juga memiliki keunikan. Seperti Goa Pancong Pote. Goa yang berada di bibir tebing ini di saat hujan ada air yang mengalir di lantai goa yang sangat bening. Malah warnanya seperti pelangi. “Masyarakat biasa menyebutnya air tujuh warna,” ujar Sekretaris Klub Pecinta Alam Kipoleng, Drs Mas Imam Lutfi.
Sedangkan di Goa Planangan, jelas Imam, terdapat stalaktit yang menjuntai ke bawah (maaf) mirip kemaluan pria. Uniknya, air yang menetes dari stalaktit diyakini bisa menambah keperkasaan pria. Sedangkan Goa Olar disebut begitu karena di depan mulut goa ada sebongkah batu yang mirip kepala ular. Goa tersebut berada di puncak bukit.

Read More

MBOLANG DI PULAU GARAM




Ssstt.. memasuki usia 40 tahun, usia di ambang senja. Tapi di hari ini, hari yg luar biasa. Aku kembali seperti 20 tahun-an yang lalu, seperti gaya  saat SMA dan Kuliahan dahulu kala..

Bagaimana tidak !!?? Setelah sekian lama, baru kali ini aku naik sepeda motor jarak jauh.

Subhaanallah, hari ini harus Dauroh dan mabid ke Tanah Merah Madura. Berame-rame naik sepeda motor dengan tim muslimah BKPRMI (Badan Komunikasi Persatuan Remaja Masjid Indonesia ) Surabaya.

Tak menyangka, saat menulis ini, saya di dekat Musholla-nya mbak Tj  , sebuah kediaman rumah yang nyaman, tenang, jauh dari hiruk pikuk.
Di malam penuh keheningan, dengan suara jangkerik. Dan pepohohonan desa dekat hutan Salak. Di kawasan di tengah pepohonan hutan, ada pohon2 Nangka, pohon2 Durian dan pohon2 Rambutan juga Kedondong..
Benar-benar beruntung mbk Tije panggilan mbak Siti Hotijah, punya rumah yang nyaman buat aktifitas dauroh seperti ini..
Alhamdulillah Subhaanallah..
Semoga tempat ini penuh Keberkahan karena di buat aktifitas Islami dan ibadah..

Nah.. untuk menempuh ke lokasi ini, benar2 penuh petualangan. Hehehe.. mbolang istilah keren-nya..

Baru hari ini dalam sejarah hidup, naik sepeda motor melewati Jembatan Suramadu yang panjang di atas lautan..

Sebelumnya selalu naik mobil bersama pak sopir, melaju ke Sampang, Pamekasan hingga Sumenep..

Kali ini sungguh seru, bersama teman2 yang luar biasa. Terutama mbk etty sunanti seorang pengusaha sukses,pemilik EO Afada dan aktifis organisasi yg luar biasa penuh semangat dan ceria. Senyum dan kehangatannya sungguh tak terlupakan..

Setelah melewati Suramadu, kami meluncur ke Bangkalan terlebih dahulu. Ahai.. tak menyangka, aku di ajak jalan-jalan ke Taman Kota Bangkalan. Ada danau dan perahu odong-odong, heheh aku dan mbak etty harus mengayuh agar perahu odong2 ini bisa berjalan..
Lucu-nya, jam sewa nya sudah habis, sudah harus mendarat. Perahu sepeda kami, muter2 di tengah danau. Pemandu wisata berteriak2 teriak, "Ibu-ibu yang naik perahu no 16, waktunya kembali bu, ayoo tarik tekan kacir, kacir bu, kacir bu.."
Kami kebingungan, ini gimana sih, perahu munyer saja di danau, kacir apaan sih ??
"Tolong pak.. tolong.. gimana ini kok gak bisa di setir.."
Mbk Tri ketawa saja, melihat perahu kita tarik maju mundur tak sampai-sampai..
Kita tak ngerti bahasa Madura.
Tak tahunya, ternyata kacir itu artinya Kiri..
Alhamdulillah.. akhirnya mendarat juga perahu kita, setelah perjuangan berdua menggayuh dan mengatur biduk bahtera danau..

Lalu di lanjutkan ke pusat Batik Madura. Baru kali ini impian ku ke pusat Batik Madura terealisasi..

Alhamdulillah, tadi setelah aholat Maghrib di lanjutkan majelis untuk musabahah. Cukup lama hampir 2 jam, dan kita tutup dengan sholat Isya' berjama'ah..

Saudara sahabatku, besok habis subuh, kami harus naik Gunung..

Read More

BAITUL ARQOM PDA SURABAYA DI SITUBONDO


Kali ini penulis mewakili kader kintilan dari PCA Bulak kota Surabaya banyak bersyukur dikarenakan banyaknya teman,saudara seiman semisi sevisi dan seperjuangan bertemu dalam satu forum yang bagus
Read More

© Copyright BUNDA TRI.COM